Masih Kulon Progo di Hati Mumuk Gomez

Category: Pendidikan, Sosial 3,404 0


Menurut sebagian orang menjadi Aparatur Sipil Negara merupakan sebuah kebanggaan. Tidak menampik anggapan itu hanya saja berlebihan jika melihat profesi sebatas kejelasan dalam hal penghasilan bulan demi bulan. Banyak profesi lain yang jadi pilihan hidup seseorang. Bukan karena terpaksa tetapi memang terpanggil untuk melakoni ladang pelayanan di bidang itu. Salah satu profesi yang begitu nikmat bagi pelakunya adalah pekerja seni. Inilah yang dituturkan Nurul Mukharomah. Menggunakan nama Mumuk Gomez ia mungkin satu-satunya warga Sentolo yang pernah menjadi pembawa acara di televisi swasta nasional sejauh ini. 

Mumuk GomezNama Mumuk Gomez memang cukup nyeleneh. Ia warga Sukoreno. Sebuah desa yang terkenal dengan lapangan di pinggir jalan nasional dan selalu ramai ketika Sholad Ied. Yup lapangan desa Sukoreno, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, lebih lengkapnya. Lahir, merantau dengan orang tua, dan dewasa bersama masyarakat desa pada umumnya membuat Mumuk terbiasa bekerja keras sejak kecil.

Setelah menetap di Jakarta, ia masih begitu lekat dan bangga dengan Kulon Progo. Menurutnya, Kulon Progo adalah terjemahan dari sebuah wilayah yang ayem dan damai. Penuh dengan pentas seni berbasis kearifan lokal seperti jatilan dan perhargaan terhadap adat. Kemudian yang juga tidak bisa terlupakan olehnya yakni SMA 1 Wates. Sekolah yang turut andil dalam menemukan jalan hidup seorang Mumuk Gomez.

Gatal karena alergi kapur

Sejak usia 2 tahun Mumuk diajak merantau oleh orang tua ke Surabaya, Jawa Timur. Pilihan sulit mengingat orang tua harus tetap mencari nafkah sebagai karyawan swasta dan membesarkan Mumuk pada saat bersamaan. Ia menghabiskan masa kecil di Surabaya hingga kelas 1 SMP. Orang tuanya kemudian memutuskan untuk mengajak Mumuk pulang ke Kulon Progo saat naik kelas 2 SMP. Awalnya Mumuk kurang menyukai tinggal di Kulon Progo karena setiap kali pulang badannya selalu gatal. Perempuan yang favorit banget dengan Mie Ayam Malvinas ini alergi terhadap air kapur. Lucu juga ya.

Setelah tinggal di Kulon Progo, Mumuk kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Sentolo. Perjalanan menuju sekolah ini harus ia tempuh menggunakan Bus Menoreh agar bisa membayar Rp 1000,00. Menurutnya jika naik bus lain bisa dikenai tarif Rp 2000,00 padahal jarak dari rumah ke sekolah tidak terlampau jauh. Bus Menoreh menjadi solusi bagi orang-orang di masa itu. Berbanding terbalik dengan saat ini. Banyak bus trayek Wates ke Wirobrajan gulung tikar karena sepi penumpang. Konsekuensi bagi Mumuk saat itu ia harus menunggu Bus Menoreh yang tidak selalu datang tepat waktu. Lulus SMP dengan nilai memuaskan, ia melanjutkan sekolah di SMAN 1 Wates. Dari sekolah di bilangan Terbah, Wates, inilah semua perjalanan Mumuk dimulai.

Ekstrakurikuler mengenalkan Kulon Progo

Jarang Mumuk bisa nongkrong bersama teman semasa SMA. Tidak adanya kendaraan, jarak rumah yang jauh, serta nenek yang tegas membuatnya enggan bepergian. Satu-satunya yang membuatnya mengenal Kulon Progo adalah ekstrakurikuler. Secara aktif Mumuk mengikuti 2 ekstrakurikuler di SMAN 1 Wates. Yang pertama taekwondo sehingga mengharuskannya berlatih sampai Pantai Glagah. Bahkan sesekali menggelar pemanasan di Waduk Sermo hingga Kalibiru. Kedua, teater. Teater yang membuat dirinya dapat berkelana ke berbagai tempat. Baginya kesan yang masih terngiang ketika menjelajah Kulon Progo adalah rasa damai. Rasa ini belum tergantikan bahkan sampai hari ini saat menetap di Jakarta.


Berkecimpung di dunia hiburan sebenarnya bukan profesi yang ia rencanakan sebelumnya. Perjalanan karir Mumuk, cucu seorang petani biasa di Kulon Progo, sangat menarik. Awalnya ia iseng mengikuti audisi sebuah acara pencarian bakat pelawak yakni Orang Lucu Indonesia karena bujukan teman sekelas. Mungkin sebagian kita masih ingat acara ini. Kebetulan saat itu di Jogja dibuka audisi. Mumuk lolos bahkan melaju hingga masuk 5 besar. Ia kemudian dikontrak oleh salah satu managemen artis di Jakarta. Oleh sebab itu ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di Tomang, Jakarta Barat,

Pertama boyongan pindah Jakarta, Mumuk Gomez tinggal di salah satu area tersibuk di Jakarta yakni Tomang. Ia memilih tempat ini karena cukup dekat dengan sekolah barunya. Setelah lulus ia kemudian melanjutkan belajar di Universitas Negeri Jakarta sehingga harus pindah ke Rawamangun, Jakarta Timur. Tidak pernah ia bayangkan akan tinggal di kota sebesar Jakarta. Kota yang hampir setiap hari dilanda macet.

Membiayai sekolah dirinya dan sang adik

Ekspektasi saat memutuskan berkarir di bidang ini sangat sederhana yakni membiayai pendidikannya sendiri dan sang adik. Menurut Mumuk, faktor ekonomi membuatnya yakin memantaskan diri memilih fokus berkarir di dunia hiburan. Jika berbicara mengenai suka duka, sejujurnya tinggal di Jakarta lebih banyak duka dibandingkan sukanya. Bagaimana mungkin bisa bahagia tinggal di kota yang hampir setiap hari selalu macet dan penat. Bunyi klakson dimana-mana. Pengguna kendaraan merasa jalanan aspal hanya milik mereka. Sungguh kontradiktif dengan Kulon Progo yang hampir tidak pernah macet panjang. Terlepas dari hal itu, Mumuk sangat menikmati profesi yang ia tekuni terlebih banyak orang yang mendukungnya.

Menjadi pekerja seni di dunia hiburan membutuhkan stamina prima dan mental yang kuat. Tantangan terbesarnya mengatur rasa lelah. Pekerjaan yang ia tekuni tidak mengenal kata lelah. Pemirsa di rumah hanya ingin melihat keceriaan, bukan yang lain. Mengatur rasa lelah agar tidak terlihat oleh penonton adalah tantangan yang masih ia pelajari sejak mencuat di program musik Dahsyat, RCTI, hingga kini turut mengisi secara reguler di Sarah Sechan, Net Tv. Menjadi sebuah kehormatan baginya karena selama proses tersebut ia diperkenankan belajar dari pekerja seni lain yang lebih senior.

Kesibukan menyebabkan perempuan yang tidak suka dengan model bekerja ala kantoran ini jarang pulang Kulon Progo. Lebaran tahun ini ia baru saja pulang. Mengunjungi satu per satu rumah kerabat layaknya masyarakat lokal Kulon Progo ketika Idul Fitri. Sesampainya di rumah ia seperti perempuan Kulon Progo pada umumnya. Membantu orang tua memasak, bersama sang nenek meracik tempe benguk sengek, jalan-jalan dan makan di angkringan. Sungguh hari-hari yang ia rindukan. Terlebih menantikan rawon dan telur ceplok buatan ibunya.

Di akhir obrolan panjang dengan Mumuk Gomez ia menegaskan ingin menghabiskan masa tuanya di Kulon Progo. Dengan logat bicaranya yang khas ia ingin teman-teman yang lain terus berjuang, tidak gampang menyerah, tidak loyo, tidak gengsian, berani mencoba hal baru, dan percaya diri. Tidak ada yang tidak mungkin. Kuncinya semangat dan keinginan untuk maju. Mari berjuang menjadi kebanggaan Kulon Progo.

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.