Penghayat Kepercayaan Merawat Harmoni

Category: Budaya, Sosial, Uncategorized 353 0


Masyarakat Kulon Progo adalah komunitas yang plural sekaligus heterogen. Kenyataan ini membuat warga Kulon Progo tidak hanya saling menghargai namun juga peduli satu sama lain. Termasuk menghargai dan peduli kepada masyarakat penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Para penghayat hidup membaur dengan masyarakat. Bersama warga yang lain turut menjaga tradisi dan adat istiadat setempat. Masyarakat memahami betul bahwa menjadi hak setiap warga untuk dapat menjalankan ajaran agama, keyakinan maupun ritual peribadatan yang dipercayainya. Sehingga dalam keseharian hidup bermasyarakat tidak ada gesekan dan tidak muncul permusuhan. Justru kebersamaan dalam bingkai Kebhinnekaan.

penghayat kepercayaanKulon Progo berupaya mensejahterakan warganya. Tidak hanya sejahtera namun juga memastikan harmoni di tengah masyarakat selalu terjaga. Terlebih belakangan banyak isu seakan ingin memecah kebersamaan. Para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Masa Esa tidak berbeda dengan masyarakat yang lain. Setara sama seperti penganut agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Katolik dan Khonghucu.

Terdapat 18 kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang di Kulon Progo. Mereka tergabung dalam Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Delapan belas kepercayaan itu antara lain Anggayuh Panglereming Napsu, Anuraga Sri Sadono, Hak Sejati, Hidup Betul, Imbal Wacono, Hidup Betul, Jati Luhur, Kasampurnan Jati, Ngesti Roso, Persatuan Ekhlasing Budi Murko, Ngudi Utomo, Sumarah, Sapta Darma, Umbul Songo, Setia Budi Perjanjian 45, Traju Mas, Tulis Tanpo Papan Kasunyatan Jati, Komunitas Indra Prasta dan Banyu Bening.

Dahulu banyak penghayat kepercayaan berdomisili di lereng pegunungan Menoreh, meskipun jumlah terbanyak tetap di area kecamatan Wates. Banyak faktor yang menyebabkan jumlah penghayat kepercayaan di pegunungan semakin sedikit. Beberapa di antaranya keengganan generasi muda untuk mewarisi nilai-nilai ajaran dan topografi wilayah yang sulit menghalangi akses transportasi bagi yang ingin belajar.

Mengenal lebih dekat

Salah satu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kulon Progo yakni Persatuan Ekhlasing Budi Murko yang bersekretariat di Gunung Gempal, Giripeni, Wates. Berdasarkan informasi dari Bapak Daryono, ketua Majelis Ekhlasing Budi Murko, jumlah penghayat kepercayaan ini sekitar 180 orang. Terdiri dari pria dan wanita, orang muda dan tua. Penghayat kepercayaan Persatuan Ekhlasing Budi Murko bersemedi setiap malam sebagai wujud ritual kepercayaan mereka. Dalam proses semedi itu tuturan yang digunakan menggunakan bahasa Jawa krama inggil.

Pengajaran mengenai nilai-nilai yang dianut disampaikan secara lisan tanpa kitab suci. Hanya yang telah menjadi anggota dan orang lain yang menawarkan diri untuk belajarlah yang diperkenankan menerima informasi terkait ajaran. Penghayat Persatuan Ekhlasing Budi Murko menyepakati bahwa mereka tidak akan pernah menyampaikan sesuatu jika tidak ada keinginan atau permintaan dari mereka yang memang ingin belajar.

Inti dari ajaran kasepuhan ini keseimbangan kehidupan alam dan manusia. Mengenal jatidiri masing-masing sambil terus merawat, menjaga dan menggunakan limpahan berkat dari alam dengan sebijak mungkin. Seringkali para penghayat ajaran kasepuhan justru dimintai pertolongan untuk mendoakan orang lain yang secara terbuka menganut agama di luar komunitas mereka. Bagi mereka bukan persoalan apa kepercayaan yang dianut oleh yang meminta pertolongan tapi lebih kepada niat baik dan ikhlas untuk saling membantu satu sama lain.

Tidak ada sekat pembatas

Bagi Bapak Daryanto, dalam kegiatan bermasyarakat tidak ada yang membedakan satu warga dengan warga yang lain berdasarkan apa yang mereka imani atau percayai. Semua saling mendukung demi terciptanya kerukunan antar warga. Baik itu dalam kegiatan kerja bakti, tetangga menikah, prosesi pemakaman dan sebagainya. Menurutnya budaya Kulon Progo yakni gotong royong efektif merekatkan setiap individu menjadi satu kesatuan utuh.

Menurutnya perhatian pemerintah sudah baik dengan memfasilitasi para penghayat dalam mengadakan sarasehan. Satu tahun bisa sampai 4 kali pertemuan. Pertemuan ini diselenggarakan secara rutin sebagai sarana silaturahmi dan bertukar pikiran bagi sesama penghayat kepercayaan di lingkup Kabupaten Kulon Progo.

Pemerintah Kulon Progo melalui Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kulon Progo berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan kepada masyarakat penghayat yakni dengan memberikan bantuan-bantuan seperti dalam hal administrasi, anggaran dan perlindungan. Bapak Sujatmiko, mantan Kepada Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kulon Progo menuturkan, tidak ada pembedaan oleh pemerintah terhadap penghayat dan masyarakat lain di luar mereka. Semua sama dan diperlakukan sama. Para penghayat bisa tetap bersekolah, bisa mendaftarkan pernikahan di catatan sipil, dan bisa bekerja seperti warga lain.

Menurut Sujatmiko, yang membuat penghayat kepercayaan merasa sulit justru ketika mengurus administrasi surat menyurat. Penyelenggara pemerintahan di level pedukuhan kerap tidak memahami bagaimana ketentuan surat untuk para penghayat kepercayaan. Namun aparatur di level kecamatan dan kabupaten biasanya telah mengerti. Perbedaan pemahaman inilah yang membuat para penghayat sering melihat ini sebagai kendala.

Setelah keluar putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2017 lalu, para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diperkenankan menulis frasa “Penghayat Kepercayaan” di kolom agama Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. Sungguh merupakan pengakuan yang ditunggu sekian lama. Putusan MK tersebut menjadi legitimasi atas sahnya kepercayaan yang mereka imani di mata negara. Walapupun sebenarnya di tingkat bawahpun tidak ada konflik masyarakat kaitannya dengan hal tersebut.

Sudah selayaknya masyarakat Kulon Progo mempertahankan kerukunan antar umat beragama, termasuk dengan para penghayat kepercayaan. Kemajuan Kulon Progo ditentukan oleh harmonisnya satu dengan yang lain. Saling komunikasi dan menghargai menjadi kunci kelanggengan hidup rukun bermasyarakat. Tugas generasi muda mempertahankan kebiasaan ini. Zaman boleh berganti namun kearifan lokal dalam hidup bermasyarat tidak boleh luntur berganti. (sumber foto: Lamru Helsber)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.