Inilah Rumah Candu dan Pecinan Wates

Category: Ekonomi, Sejarah 808 0


Setiap periode zaman memiliki sensasi kesenangan masing-masing. Hari ini menyewa ruang karaoke bersama banyak kawan bisa jadi itulah kesenangan. Berlama-lama memainkan permainan daring menggunakan telepon pintar barangkali seperti itu senang. Bahkan menghabiskan waktu dengan aplikasi Tik Tok mungkin juga aktivitas mencari kesenangan. Ternyata beberapa masyarakat Kulon Progo dan Adikarta pada periode sebelum Agresi Militer Belanda II memiliki kesenangannya sendiri. Kesenangan itu muncul melalui rumah candu. Candu diolah dari getah kering berwarna cokelat kekuningan pada tanaman Papaver somniferum, tumbuhan kawasan subtropis yang menimbulkan efek ketergantungan. Candu di Wates dimulai di kawasan pecinan yang kini lenyap.

rumah candu

Candu merebak di Nusantara bahkan sebelum VOC datang. Awalnya candu merupakan komoditi ekonomi yang dibawa pedagang dari Jazirah Arab. Bagi masyarakat Jawa, khususnya Kulon Progo, menghisap candu atau madat dianggap menabrak nilai moral seperti yang dituturkan melalui istilah Molimo yakni main, maling, madon, minum dan madat. Meskipun demikian tetap saja banyak yang setia mengkonsumsi benda mahal ini. Menurut Bapak Paulus R. Achmad Sutrisno, seorang saksi sejarah, warga Wates yang kini telah sepuh, candu tergolong mahal untuk masyarakat saat itu sehingga yang dapat membelinya tidak sembarang orang. Sebagian besar dari kalangan mampu, keturunan bangsawan dan pejabat lokal. Meskipun begitu tidak sedikit kalangan kurang mampu yang tetap membeli sehingga kerap terbelit kesulitan keuangan.

Merujuk pada catatan Contract uit het Register der Besluiten van den Resident van Jogjakarta pada 1912 terdapat belasan tempat penjualan candu atau oppiumverkoopplaats dalam bahasa Belanda di penjuru Kulon Progo dan Adikarta. Di antaranya terdapat di Wates, Pripih, Jombokan, Panjatan, Bendungan, Wonopeti, Wonokasih, Brosot, Karangwuni, Glaheng, Klumutan, Dekso, dan Sentolo. Disampaikan pula jadwal pembelian candu dan kapan pemadatan atau aktivitas menghisap candu dapat dilakukan. Dalam hal ini belum jelas apakah dihisap di tempat seperti tempat permadatan di lokasi lain atau dibawa pulang.

Candu menjadi komoditi yang sangat menguntungkan. Hampir sama seperti rokok hari ini. Michael Bambang Hartono dan saudaranya Robert Budi Hartono menjadi dua orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes tahun 2018 dari bisnis olahan tembakau. Sekalipun menimbulkan efek tidak baik bagi kesehatan, potensi ekonomi dari rokok baik filter maupun kretek begitu luar biasa. Keuntungan seperti ini yang zaman itu diharapkan VOC, selain dari komoditi seperti gula, teh, kopi dan rempah.

Merekalah yang kemudian memonopoli perputaran bisnis candu di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Melalui bandar-bandar keturunan Tionghoa yang mendapat lisensi menjual dari Belanda, candu merebak di pesisir, kemudian masuk ke pedalaman, termasuk lereng Menoreh yang saat itu terbagi menjadi wilayah Kabupaten Kulon Progo dan Adikarta.

Candu di selatan pasar

Achmad memastikan bahwa candu pernah beredar di Wates, tepatnya berlokasi di toko emas Ismoyo selatan pasar. Bersebelahan dengan gerai waralaba yang terpisahkan oleh jalan. Menghadap ke barat di titik itulah toko candu Wates berada. Walaupun sempat ramai pada masanya, sebenarnya tidak banyak masyarakat yang mampu membeli candu. Kehidupan ekonomi warga lokal yang biasa-biasa saja menyulitkan mereka untuk mengakses benda ini.

Kategori pembeli candu secara sederhana dapat digolongkan menjadi dua. Golongan pertama yang mampu secara finansial seperti kalangan pejabat, keturunan bangsawan dan pedagang sukses. Golongan kedua adalah orang biasa yang nekat membeli karena efek ketergantungan yang ditimbulkan oleh tanaman dengan nama lain opium ini. Saat itu mengkonsumsi candu dianggap wajar bahkan menjadi jenis jamuan yang dianggap ‘ngewongke’ dalam Bahasa Jawa. Kakeknya, Sindu Menggolo, seorang demang di Wates adalah pengkonsumsi candu sekitar tahun 1925. Demang adalah jabatan administratif di atas lurah. Jika diurutkan dari bawah yakni lurah di atasnya ada demang, penewu kemudian bupati.



Bukti otentik terlihat pada peta berangka tahun 1933 yang menunjukan beberapa rumah candu atau rumah madat. Antara lain di selatan Pasar Wates, Wates. Area Pasar Pripih, Kokap. Selatan Pasar Njombokan, Temon. Area Kantor Kecamatan, Panjatan. Area Pasar Bendungan, Wates. Wonopeti, area selatan area Pabrik Gula Sewu Galur, Galur. Kebanyakan terletak di dekat pusat perekomian yakni pasar. Besar kemungkinan diperdagangkan oleh pedagang etnis Tionghoa.

Tidak dapat dipastikan seberapa besar rumah candu tersebut dan bagaimana bentuknya. Ada kemungkinan bahwa yang tertera di peta adalah rumah candu dengan lisensi resmi. Kemungkinan lain merupakan rumah candu yang dianggap memiliki ketersediaan candu cukup besar. Selain itu juga ada kemungkinan rumah candu yang tertulis di peta sekaligus menyediakan tempat untuk menghisap atau pemadatan.

Pada beberapa literatur disebutkan rumah candu memang menyediakan area pemadatan seperti bilik-bilik. Di dalam bilik ini penikmat opium akan menikmati asap hasil pembakaran candu. Saking hebatnya pengaruh candu pada kehidupan sosial dan ekonomi, dibuatlah jadwal kapan candu dapat dibeli dan kapan dapat dikonsumsi. Tentu ini yang resmi, yang tidak resmi kapan pun bisa beli dan menghisapnya.

Perkara menghisap candu tidaklah sulit. Hanya memerlukan alat seperti suling bernama bedutan yang ujungnya terdapat bulatan seukuran bola pingpong. Kemudian candu yang telah dibentuk seperti merica-merica kecil dibakar bersama tembakau. Lalu asapnya dihisap layaknya rokok berulang kali. Sensasi kesenangan bercampur kepuasan dipercaya muncul setelahnya.

Riwayat yang hilang

Masyarakat etnis Tionghoa ulet saat berdagang. Rumah candu atau toko penjualan candu yang terdapat di Wates adalah milik seorang etnis Tionghoa. Kota Wates atau spesifiknya pedukuhan Wetan Pasar, lokasinya di depan Pasar Wates hingga samping BPD DIY, sampai daerah Bank BCA belakang Pasar Wates adalah pusat perekonomian yang sebagian besar ditinggali oleh warga etnis Tionghoa. Bahkan daerah di samping Bank PBD DIY disebut sebagai Pecinan Wates oleh generasi yang hidup pada masa itu.

Berdasarkan uraian dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie pada akhir tahun 1905 terdapat 60 warga etnis Tionghoa dan 40 orang Eropa di seluruh Adikarta. Kemudian melihat catatan Uitkomsten Der in de Maad November 1920, Ghouken Volkstelling, 15 tahun kemudian, warga etnis Tionghoa di Adikarta berjumlah 251 orang dan 84 orang Eropa. Namun untuk di Wates saja ada 160 warga etnis Tionghoa dan 17 warga Eropa. Hal ini menguatkan kesaksian bahwa memang pernah ada pecinan di pusat kota Wates dengan ratusan warga yang tinggal di sana. Ini juga yang kemudian membuat warga etnis Tionghoa merasa perlu membuat Tugu Pagoda di dekat perlintasan kereta api sebagai wujud terima kasih kepada penguasa Adikarta karena telah memberikannya tempat.

Warga etnis Tionghoa menempati lahan di dusun Wetan Pasar dengan sistem sewa tanah kepada Pakualaman selama kurun waktu tertentu. Bupati Adikarta saat itu masih menempati lahan yang kini menjadi Gedung Kaca. Setelah penyatuan Kulon Progo dengan Adikarta menjadi satu kabupaten utuh dibangunlah Rumah Dinas Bupati Kulon Progo yang ada di Terbah. Sekitar tahun 1970 pembangunan berlanjut yakni menyediakan komplek rumah dinas bagi kepala dinas di belakang rumah dinas bupati.

rumah canduPerbedaan budaya dan jumlah populasi yang semakin meningkat mengharuskan warga etnis Tionghoa memiliki komplek makam sendiri. Ada dua lokasi yang digunakan yakni Dobangsan dan Terbah. Makam Tionghoa di Dobangsan eksis hingga hari ini namun makam di Terbah hanya menyisakan bekasnya saja di selatan SMA 1 Wates. Sebelum Rumah Dinas Bupati Kulon Progo ada, dari kesaksian Achmad di masa mudanya, makam etnis Tionghoa membentang dari daerah rumah dinas bupati, ke timur menuju arah belakang GKJ Wates lalu ke barat melewati SD 2 Wates hingga jelang Gereja Katolik. Kondisi makam Tionghoa di Terbah terpencar berbeda dengan makam di Dobangsan.

Berangsur pergi

Kehidupan warga etnis Tionghoa yang semula aman, berdampingan, dan tentram mulai dikacaukan seiring meletusnya Agresi Militer Belanda II akhir tahun 1949. Menyusul ketakutan banyak pihak bahwa Wates akan dikuasai Belanda, tentara Indonesia bersama warga kemudian memaksa warga etnis Tionghoa untuk meninggalkan rumah. Rumah sekaligus tempat usaha di kawasan Pecinan Wates yang sebagian besar dibangun dari batu bata dibakar karena khawatir akan dimanfaatkan gedungnya oleh Belanda. Stasiun Wates di masa itu masih sangat kecil bahkan belum ada ruang tunggu seperti yang terlihat sekarang.

Warga etnis Tionghoa berbondong-bondong mengungsi meninggalkan Wates. Sebuah literatur menyatakan beberapa dari mereka diungsikan ke Sidomulyo, Pengasih. Ada pula yang mengungsi ke Kutoarjo dan banyak tempat lain. Meskipun begitu beberapa bulan kemudian terlihat mereka datang mengecek kembali rumahnya. Ternyata sebagian mereka menyimpan harta seperti uang dan emas di dalam tembok dan dipendam di dalam tanah. Mereka datang bermaksud mengambil sisa harta yang masih dapat diselamatkan.

Seiring kepergiaan warga etnis Tionghoa perdagangan candu melalui rumah candu yang dipasrahkan Belanda kepada bandar Tionghoa di Wates sirna. Pun demikian dengan keberadaan etnis Tionghoa yang kini dapat dihitung dengan jari. Merekalah penggerak perekonomian yang harus tergusur karena revolusi fisik kala mempertahankan kemerdekaan. Candu yang merebak di pusat-pusat perekonomian Kulon Progo dan Adikarta perlahan menghilang. Digantikan dengan keberadaan rokok tembakau yang semakin mudah ditemukan.

Sayangnya saat ini keberadaan warga etnis Tionghoa di Kulon Progo tidak sebanyak pada masa itu. Keberadaan saudara kita etnis Tionghoa memberi warna keberagaman bagi kehidupan masyarakat Kulon Progo yang majemuk. Dengan visi ekonomi tajam, sejatinya akan mempercepat laju perekonomian. Sejarah memang tidak selalu menyenangkan namun sejarah harus jujur disampaikan. (Sumber: Buku Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, Buku Uitkomsten Der in de Maad November 1920, Ghouken Volkstelling, Bapak Paulus R. Achmad Sutrisno. Foto: Jessica)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.