SD Kanisius Wates Merintang Zaman

Category: Pendidikan, Sejarah 448 0


Sekolah sebagai institusi pendidikan formal memberikan pelayanan untuk mengasah potensi peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pendidikan merupakan ujung tombak majunya peradaban sebuah bangsa dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Hal itu juga menjadi salah satu alasan didirikannya Sekolah Dasar Kanisius Wates tahun 1927. Awal didirikan oleh Romo Strater, seorang romo yang datang ke Indonesia tahun 1918, sekolah ini bernama Chatolic Standaardschool. Jejaknya terbukti di sebuah peta lama yang menunjukan eksistensi SD Kanisius Wates di selatan perlintasan kereta api Wates barat tahun 1933.

Jika ditarik ke belakang, riwayat SD Kanisius Wates terkait erat dengan Canisius Vereniging yang didirikan di Muntilan pada 1918 oleh Romo Van Lith. Selain itu SD yang kini menjadi salah satu sekolah favorit di Kulon Progo juga bersentuhan langsung dengan kisah tambang Mangaan, Kliripan, Kokap, sekitar tahun 1920 an.

Dalam sebuah literatur dituliskan bahwa banyak warga Belanda yang bekerja di Kliripan dan Kriyan memang beragama Katolik. Beberapa di antaranya adalah sang administratur yakni Mr. Yon Yang Ping dan Ir. Vermin. Oleh karena itu pemuka agama Katolik termasuk Romo Strater banyak bersinergi langsung dengan masyarakat Belanda di dusun yang berada di utara rel kereta api ini. Tidak berhenti di titik itu. Pelayanan mereka juga ditujukan kepada masyarakat umum. Ditandai dengan didirikannya sekolah yang kemudian berkembang menjadi SD Kanisius Wates.

Menurut koran yang terbit di Semarang, yakni De locomotief: Samarangsch handels en advertentie Blad, pada 25 Juni 1896, berita mengenai eksploitasi Kliripan dan Kriyan sebagai lokasi tambang sudah ada pada tahun itu. Masih dari koran yang sama, tambang mangaan Kliripan diresmikan pertama kali pada Juni tahun 1894 oleh pengusaha bernama H. W. van Dhfsen. Seiring jaman berganti, kepemilikan lokasi tambang selalu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Kliripan lah yang kemudian menarik para pemuka agama Katolik untuk melayani di area Wates, termasuk mendirikan sekolah. Romo Henricus Van Driessche bertugas disana sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Romo Strater.

Sulit melepas fakta bahwa keberadaan SD Kanisius juga menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Katolik Wates pada 1936 yang diresmikan oleh Romo Willeken. Melalui sekolah SD ini lah benih dalam upaya syiar agama Katolik terus disemai. Selain tentu tujuan utamanya memberikan akses pendidikan bagi masyarakat Wates yang saat itu tidak memiliki banyak pilihan lokasi belajar.

Jauh sebelum mendirikan Chatolic Standaardschool di Wates, Romo Frater terlebih dahulu mempelajari Bahasa Jawa. Ini penting sebab yang akan ia temui di lapangan adalah masyarakat dengan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Meskipun tugas utamanya melayani orang Eropa di Yogyakarta. Dalam perkembangannya, Romo Henricus Van Driessche dan Romo Strater seolah-olah berbagi tugas dalam pelayanan. Romo Henricus Van Driessche melayani di dalam kota Yogyakarta sedangkan Romo Strater lebih banyak menghabiskan waktu bersama masyarakat di luar kota Yogtakarta.



Selain Chatolic Standaardschool yang setara Sekolah Dasar dengan masa belajar selama 5 tahun dibuka juga sekolah lain di berbagai lokasi. Antara lain Hollandsche Cursus semacam kursus keterampilan dan Volksschool yang kemudian hari dikenal sebagai Sekolah Rakyat dengan masa belajar selama 3 tahun di Kalimenur, Sentolo, pada tahun yang sama, di Milir, Pengasih, pada 1929 dan di Kokap pada 1930. Sekolah Rakyat hanya memberikan pelajaran membaca, berhitung, menulis dan beberapa keterampilan seperti membuat gerabah.

Standaardschool sebagai sekolah yang memberi kesempatan bagi warga lokal untuk belajar memilih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya. Berbeda dengan Hollandsch-Inlandsche School yang menggunakan bahasa Belanda dan menghabiskan waktu 7 tahun sampai mendapat predikat lulus. Kedua sekolah ini sering dibedakan berdasarkan status sosialnya. Sebuah anggapan yang masih lazim pada zaman itu.

Untuk menampung tamatan Volksschool di Bonoharjo, Sentolo, didirikanlah sekolah yang menjadi sambungan dari Volksschool yakni Vervolgschool. Proses belajar di sekolah ini ditempuh selama 2 tahun. Ironisnya saat Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda pada 1942 banyak fasilitas pendidikan di Kulon Progo ditutup bahkan dirusak.

Tidak hanya sekolah yang dirusak sehingga aktivitas belajar mengalami hambatan yang sangat serius. Segala hal yang berbau Belanda akan disingkirkan oleh Jepang, termasuk pasar dan rumah sakit. Bahkan warga sipil Belanda saat itu ditangkap kemudian diasingkan untuk dipenjara di kamp tahanan di daerah Tegal Buret, Galur. Tidak mengenal usia, mereka ditempatkan di sebuah kamp penampungan dengan keadaan yang memprihatinkan. Pendiri SD Kanisius tak luput dari gerakan yang dilakukan tentara Jepang. Romo Strater dibawa ke Bandung untuk kemudian dipenjarakan di penjara Sukamiskin.

Beruntung SD Kanisius menjadi satu-satunya sekolah Katolik yang masih berdiri meskipun sebagian besar bangunannya dirusak karena dianggap berada di pihak Belanda. Setalah Indonesia merdeka upaya untuk membangkitkan kembali sekolah Katolik dimulai. Dimotori H. Sukilam, B. Wahya, M. Adi Sumarto, dibantu guru Katolik yang mengajar di sekolah negeri. Upaya ini dirintis guna membangkitkan kembali semangat para perintis dalam melayani masyarakat Kulon Progo melalui institusi pendidikan.

Romo Strater menghembuskan napas terakhirnya di Bandung tahun 1944. Tidak lama setelah dirinya dipenjarakan oleh tentara Jepang. Tidak banyak rekaman foto yang dapat kami peroleh tentangnya. Hanya satu foto yang menunjukan wajah tirusnya. Sekalipun berlalu puluhan tahun, semangat perjuangan Romo Strater ketika mendirikan sekolah, khususnya di Kulon Progo masih dapat dirasakan hingga kini. Beliau pasti tak akan menyangka. Sekolah yang dulu dirintisnya kemudian dikelola oleh Yayasan Kanisius akan menjadi salah satu SD terbaik yang dimiliki Kulon Progo saat ini. (Sumber: Buku 70 Tahun Gereja Santa Maria Bunda Penasehat Baik dan Buku Awal mulanya adalah Muntilan: misi Jesuit di Yogyakarta, 1914-1940)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.