Anchor Metro TV di Kantin SMP 1 Wates

Category: Pendidikan, Sosial 488 0

Ikatan emosional terhadap sebuah wilayah tidak selalu dikaitkan dengan kehebatan tempat tersebut. Bisa saja dari sesuatu yang sederhana dan tidak dipandang penting. Inilah yang Marvin Sulistio rasakan. Putra pasangan dokter gigi kenamaan Kulon Progo, Marcus Sulistio dan Indina, merasa keberagaman potensi alam dan masyarakat serta kentalnya kultur Jawa merupakan pengikat bagi dirinya dengan kampung halaman. Butir pengalaman di masa lalu yang ternyata menjadi bekal penting bagi hidupnya hari ini.
Belum lama, rekan kerja di kantor bercerita tentang pengalamannya menjadi jurnalis di Jakarta. Menurutnya cukup berat lantaran kerap mendapat amarah dari istrinya karena pulang larut malam. Sambil kami menonton tayangan berita di televisi ia bersoloroh ingin menjadi seperti Aiman. Ingatan saya kemudian terlempar jauh belasan tahun silam saat bersekolah di Wates. Saya melihat bagaimana teman sekolah kini menjadi jurnalis dan anchor muda di Jakarta. Dialah Marvin Sulistio—yang wajahnya muncul di tayangan berita pagi itu.

Inspirasi bangku sekolah

Menembus ketatnya persaingan di dunia media lingkup nasional tidaklah mudah. Marvin merintisnya dari tahap terbawah. Lingkungan membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan ulet. Pencapaian ini tidak lepas dari peran sekolah yang menempanya sehingga dapat menggapai cita-cita menjadi jurnalis. Ia merupakan warga Kulon Progo pertama yang menjadi anchor berita di media level nasional.
Sekolah menjadi tempat terbaik guna mengasah sikap, wawasan, dan pengalaman. Penerapan pendidikan yang holistic memampukan murid berkembang dengan baik. Guru memegang peran sentral, orang tua mengkonfirmasi nilai-nilai positif yang diterapkan di sekolah. Murid merupakan tokoh utama dalam upaya pendidikan tersebut.
Pendidik yang disiplin dan lingkup pertemanan yang heterogen membuat kepekaan dan wawasan Marvin semakin apik. Marvin menebar tawa masa kecilnya di TK Puspayoga Wates, berlanjut di SD Percobaan 4 Wates, kemudian SMP 1 Wates. Ia masih ingat mimik dan gestur guru-gurunya ketika mengajar di kelas. Antara lain Ibu Santi, Ibu Har, Ibu Rusmini, Bapak Heru dan Bapak Waluyo. Terlebih guru semasa SMA yang membuatnya merasa yakin bahwa jurnalistik adalah pilihan hidupnya.
Bakatnya dalam bidang jurnalistik ditemukan Bapak St. Kartono. Guru Bahasa Indonesia ketika melanjutkan pendidikan di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Beliau yang mengajar kelas jurnalistik ini juga dosen di Universitas Sanata Dharma. Tulisannya kerap muncul di media massa. Bahkan rentetan buku karyanya tentang pendidikan mudah ditemukan di banyak perpustakaan.
Penyuka Soto Pak Man, Ayam Barata dan banyak penganan di Pasar Wates ini menilai jalan hidupnya telah ia tentukan sejak memilih jurusan di bangku SMA. Meninggalkan Kulon Progo untuk belajar di Kota Yogyakarta merupakan pilihan berat dan penuh risiko. Terlebih stigma terhadap Kulon Progo waktu itu sebagai daerah tertinggal masih kencang berhembus.
Menyelesaikan bangku SMA di SMA Kolese de Britto, Marvin kemudian hijrah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah. Universitas Parahyangan menjadi pilihan selanjutnya. Program studi Hubungan Internasional ia pilih karena ingin menjelajah banyak tempat dan mengenal banyak orang. Di Bandung ia berharap dapat membuka wawasan lebih luas tentang budaya dan keberagaman Indonesia.

Bukan dokter gigi

Lahir dan besar di keluarga dokter tidak membuatnya tergiur dengan profesi orang tua. Ia memiliki pandangan lain terhadap masa depannya. Marvin melihat secara jujur bahwa dirinya minim potensi pada jurusan pengetahuan alam. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap minatnya yang condong kepada hal-hal berbau sosial dan kebahasaan.
Belajar mengenai kajian internasional di bangku perkuliahan membuka pintu baginya untuk sering berkunjung ke luar negeri. Traveling merupakan salah satu hobi yang sampai hari ini masih sering ia lakukan. Tidak harus bersama rombongan. Dari unggahan di sosial medianya, Marvin lebih sering nampak seorang diri mengunjungi banyak lokasi. Ini peluang bagi perempuan-perempuan di luar sana.
Sekalipun telah mengunjungi banyak tempat di dalam dan luar negeri, Kulon Progo selalu menjadi pelabuhan yang ia rindukan. Melakukan aktivitas sederhana di Wates merupakan harapan sekaligus upaya untuk membuat dirinya selalu utuh. Sekadar berjalan di hamparan sawah belakang rumah menjadi relaksasi yang sangat bernilai bagi Marvin.
Perasaan seperti ini wajar terjadi pada masyarakat Kulon Progo yang merantau di luar daerah. Bahkan melihat foto sudut-sudut kampung halaman saja bisa menjadi stimulus menjadikan semangat yang semula padam dapat menyala kembali. Sulit dipahami bagi yang tidak hidup merantau. Sesuatu tentang Kulon Progo yang dipandang biasa saja bagi masyarakat yang tinggal di Kulon Progo, akan sangat berbeda maknanya bagi yang merantau mengadu nasib di luar daerah.

Jurnalis muda

Melalui Bapak St. Kartono, Marvin tahu bahwa ia memiliki bakat dalam bidang menulis. Beliau melihat ada yang berbeda pada tulisan Marvin yakni cenderung eksploratif. Berlanjut pada masa kuliah berawal dari ketidaksengajaan saat mengikuti mata kuliah jurnalistik cetak. Ia sangat menikmati mata kuliah tersebut. Melalui jurnalistik, khususnya menulis, Marvin dapat menuangkan pendapat yang ada di dalam pikiran. Ia biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis hal yang ia anggap menarik.
Suatu hari di Universitas Parahyangan digelar Job Fair. Marvin mendapat kesempatan untuk menyalurkan kegemarannya yang lain yakni tampil di depan banyak orang dan di depan kamera. Meskipun saat usia sekolah di Wates, Marvin terkesan pemalu. Setidaknya ini yang dikenang temen-teman sekolah tentang sosoknya. Akhirnya setelah proses yang sangat lama dan berliku ia berhasil menjadi seorang jurnalis.
Marvin menapaki karir dimulai dari reporter lapangan Metro Tv yang ditugaskan di bidang sosial. Di awal karirnya ia sempat selama 2 tahun menjalani peliputan di gedung DPR. Kenangan yang ia ingat pada tahun 2014 berita yang ia bawakan terkait peliputan di DPR cukup viral. Sederhana memang tapi proses ini sungguh membuatnya bangga. Satu tahun kemudian di tahun 2015 Marvin ditunjuk menjajal posisi anchor. Pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kerja keras dan kemauan untuk belajar membuatnya dipercaya membawakan berita ekonomi dan program non buletin, hari ini.
Menjadi seorang reporter lapangan kemudian beranjak menjadi anchor membutuhkan kompetensi yang tidak sederhana. Tantangan utamanya di tahun-tahun pertama adalah aksen bahasa. Layaknya masyarakat Kulon Progo dan Yogyakarta secara umum, aksen berbicara Marvin medok waktu itu. Masih Jogja banget menurut sebagian orang dan ia mengamini hal itu.
Membutuhkan sekitar 2 tahun untuk ia dapat menyamarkan aksen bahasa Jawa-nya. Proses adaptasi yang cukup lama. Uniknya karena program yang ia bawakan cenderung memerlukan pendekatan sosial, Marvin kerap memanfaatkan bahasa Jawa sebagai media pendekatan kepada narasumber. Kepada narasumber yang dapat menggunakan bahasa Jawa sering Marvin mencoba menanyakan sesuatu menggunakan bahasa Jawa. Kedekatan emosional sering membuat suasana menjadi lebih cair dan rileks sehingga banyak informasi yang ia dapatkan.
Baginya konsistensi profesionalitas dalam menjaga layar dan performa saat membawakan acara memegang peranan penting. Jurnalis tidak boleh terlena akan titel masuk televisi dan menjadi artis—sebaliknya harus terus berlajar dan kritis mengikuti isu yang berkembang secara objektif. Pernah suatu kali ia membawakan breaking news pesawat latih yang jatuh di Bandara Adi Sutjipto. Konsekuensinya ia harus siaga selama 7 jam. Bahkan saat peliputan peristiwa tertentu ia harus berkonsentrasi selama 24 jam. Namun demikian Marvin sangat menikmati pengalaman tersebut.

Kulon Progo berbenah

Sebagai warga Kulon Progo Marvin selalu merasa ada yang manarik ketika membawakan informasi tentang Kulon Progo. Meskipun tidak sering membawakan kabar tentang bumi Adikarta, pernah suatu kali ia membawakan program dialog dengan narasumber perihal potensi Bandara Internasional Yogyakarta bagi perekonomian warga. Topik ini terasa sangat dekat dengan dirinya.
Masyarakat Kulon Progo harus sadar jika rute penerbangan internasional ke Yogyakarta akan dipindahkan ke bandara baru. SDM Kulon Progo harus siap menyambut ombak wisatawan yang datang secara massif dalam beberapa tahun ke depan. Selalu belajar dan berbenah dalam setiap aspeknya. Terutama aspek pariwisata dengan segala turunannya. Potensi Kulon Progo adalah kearifan kehidupan sosial masyarakatnya yang dipadu dengan unsur budaya dan alam. Marvin yakin potensi ini akan berkembang jika dikerjakan dengan maksimal secara gotong royong.
Bagi Marvin yang mengidolakan Kalibiru dan Wisata Mangrove Kadilangu ini, pemuda harus memiliki target ingin menjadi apa suatu hari nanti. Tidak ada kata tidak bisa hanya karena latar belakang berasal dari kota kecil. Asalkan konsisten dan dengan niatan positif niscaya ada jalan. Selalu ingat bahwa jalan kesuksesan jarang sekali yang bisa terbuka lebar secara langsung—sebaliknya akan sangat terjal dan cenderung lama.
Siang itu bel istirahat tanda masuk kembali ke kelas berbunyi di SMP 1 Wates unit II. Seorang siswa dengan tinggi badan di atas rata-rata berjalan bersama seorang siswa pria dan dua siswi perempuan. Tangannya menenteng bungkusan berisi bakmi terbungkus daun yang dibeli di warung Pak Slamet. Sepatunya hitam dengan potongan rambut berponi. Siswa itu, Marvin Sulistio.

Tulisan ini dipersembahkan untuk almarhum Bapak Slamet. Penjaga sekolah sekaligus pengelola kantin di SMP 1 Wates Unit II.

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.