Karantina Lokal Atasi Wabah Covid-19

Category: Kesehatan 175 0

Saat pandemi Covid-19 merebak di seluruh dunia, setiap orang berperan besar terhadap upaya mencegah penyakit ini menyebar semakin luas. Cara termudah namun juga efektif adalah tinggal di rumah dan tidak bepergian. Dari kacamata awam, setelah era perang dunia berakhir sepertinya ini mekanisme bela negara termudah yang pernah dilakukan umat manusia. Namun, harus ada tindakan ekstrem untuk memutus wabah ini. Termasuk jika harus membatalkan perjalanan ke suatu tempat atau menunda kepulangan ke kampung halaman sampai wabah dapat diatasi. Apabila memaksakan diri pergi maka karantina lokal menunggu di ujung perjalanan.

Mendukung langkah tersebut Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dapat mengeluarkann surat edaran guna menugaskan pemerintah kecamatan di bawah koordinasi dan standar operational dari Dinas Kesehatan Kulon Progo dan BNPB Kulon Progo berkoordinasi dengan Polri serta TNI, mempersiapkan tempat karantina lokal bagi warga pendatang atau warga yang pulang ke kampung halaman. Keputusan ini diperlukan karena risiko kematian akibat virus corona di Indonesia sangat tinggi mencapai 9,11% jika merujuk pada data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada 3 Maret 2020.

Karantina lokal ampuh meminimalisir kontak fisik sambil menunggu masa inkubasi virus yang menurut WHO selama 14 hari selesai. Inkubasi merupakan rentang waktu dimana virus mulai menginfeksi hingga menunjukan gejala pada tubuh manusia. Karantina memang tidak serta merta menyelesaikan masalah tetapi sisi ketidakmenyenangkan karantina ini lah yang ingin ditunjukan. Ada risiko-risiko yang ditanggung oleh pendatang atau pemudik ketika mereka memutuskan pergi. Risiko inilah yang diharapkan dapat meneguhkan anggapan bahwa bepergian atau mudik bukan sesuatu yang perlu dilakukan, sehingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak pergi. Namun jika terjadi sesuatu yang mengharuskan kepulangan seperti diputusnya kontrak kerja karena wabah maka semoga ide ini menjadi jalan keluar.

Alih-alih hanya melapor kepada ketua RT dan puskesmas setempat, karantina akan melengkapi upaya pencegahan semakin banyaknya warga tertular. Proses ini memungkinkan melokalisir potensi penularan yang diakibatkan dari kontak fisik para warga yang tiba di Kulon Progo. Karantina semakin efektif jika ditunjang peran aktif warga sekitar untuk memantau siapa saja pendatang atau pemudik yang tiba di daerahnya. Mereka berhak melaporkan ke ketua RT untuk kemudian ditindaklanjuti dengan proses penjemputan. Kerahasiaan nama pelapor dijamin oleh salah satu pasal dalam surat edaran yang diterbitkan.

Baru-baru ini beredar di media tentang beberapa hunian yang dikelola pemerintah dan swasta direncanakan diubah sementara fungsinya menjadi lokasi istirahat bagi tenaga kesehatan yang merawat pasien covid-19, menampung pasien yang diduga terjangkit, bahkan memberikan tempat bagi pasien yang telah positif terjangkit virus corona. Situasi darurat seperti ini memungkinkan pemerintah daerah menggunakan wewenangnya mengkondisikan sebuah tempat menjadi lokasi karantina. Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dapat memilih beberapa gedung sekolah di setiap kecamatan sebagai lokasi karantina. Tentu dengan jaminan selama difungsikan menjadi tempat karantina dan setelah karantina ini usai pemerintah memastikan kebersihan dan kelayakan sekolah untuk menjadi tempat belajar kembali.

Nantinya pada gedung-gedung sekolah tersebut telah dipersiapkan tempat istirahat, kasur, dapur umum, tempat cuci tangan, dan kamar mandi yang layak, serta penjadwalan kegiatan sehingga tidak sekadar menunggu tanpa aktivitas. Aktivitas seperti kursus keterampilan, wawasan kesehatan, sajian pengetahuan budaya, permainan anak, konsultasi psikologi, dan sebagainya, akan dilakukan guna memberikan kehangatan bagi mereka agar tidak merasa layaknya musuh masyarakat seperti yang digembar-gemborkan hari ini. Kerabat boleh menitipkan sesuatu dengan jumlah secukupnya dan wajar, namun tidak diperkenankan bertemu. Dihimbau juga jika makanan yang diberikan dapat diantar dengan kemasan sekali pakai.

Jika diterapkan dengan mekanisme yang tepat dan tegas seperti keharusan menjaga kebersihan, kewajiban menjaga jarak dengan warga lain, kewajiban mengenakan masker meskipun kain, disiplin menjalani pola istirahat dan makan, maka karantina lokal akan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sambil menunggu masa inkubasi selesai. Di saat yang sama membuat para calon pemudik dan pendatang berpikir ulang sehingga diharapkan tetap tinggal di daerah masing-masing. Sekaligus mengantisipasi gelombang perantau yang kehilangan pekerjaan akibat wabah sehingga tidak ada pilihan lain selain pulang.

Beberapa hari yang lalu Bupati Kulon Progo menuturkan bahwa pendanaan penanganan wabah covid-19 di Kulon Progo mencapai 25 miliar. Angka tersebut akan dialokasikan untuk tiga prioritas, yakni mendanai tindakan medis, meminimalisir dampak ekonomi, serta menekan dampak sosial. Melalui sebagian dari dana ini kami berharap proses karantina dapat dilakukan. Percayalah bahwa jika hal ini tidak lakukan maka risiko warga yang tertular akan semakin tinggi. Apalagi dalam waktu dekat momentum mudik Idul Fitri segera bergulir meskipun pemerintah pusat telah melarang masyarakat pulang kampung. Masa-masa yang diperkirakan akan menjadi saat-saat penularan wabah secara masif.

Kami tentu memahami bahwa pemerintah perlu menghitung dengan detail komponen biaya penyelenggaraan karantina lokal. Namun jika dirasa perlu, demi kebaikan bersama, diwajibkan saja bagi warga yang dikarantina untuk membayarkan iuran karantina sebagai wujud sumbangsih bagi pemerintah daerah dalam menjaga warganya agar dampak virus ini tidak meluas. Bahkan secara terbuka membuka rekening donasi dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyumbangkan atau meminjamkan berbagai peralatan dan perlengkapan guna menunjang kebutuhan warga yang tengah menjalani karantina. Akan lebih baik juga jika diberikan kesempatan bagi warga yang ingin menjadi relawan membantu di lokasi karantina.

Karantina lokal akan menjadi tindakan nyata yang sangat bermanfaat baik bagi warga yang tinggal di Kulon Progo, maupun warga yang baru saja pulang ataupun pendatang yang bermaksud tinggal di Kulon Progo.Tetapi perlu diingat bahwa warga yang mudik ataupun pendatang harus tetap diperlakukan dengan humanis. Tidak perlu ada penolakan-penolakan yang justru memunculkan gesekan di tengah masyarakat. Pada dasarnya semua ingin tetap sehat sehingga protokol kesehatan yang tegas sudah selayaknya diberlakukan. Salah satunya karantina lokal.

Sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada bulan-bulan di depan. Oleh karena itu keseriusan pemerintah kabupaten dalam merespon mobilitas warganya sungguh diperlukan. Peran masyarakat seperti pengadaan tempat cuci tangan, donasi alat pelindung diri, suplemen bagi tenaga medis, dan sebagainya sangat perlu. Namun kebijakan yang kritis, data yang valid, tanggap terhadap kondisi di lapangan, serta jeli melihat pola penularan virus menjadi ujung tombak untuk menjaga masyarakat tidak tertular. Jika diperlukan dana lebih carikan dana itu dari alokasi kunjungan kerja, rapat dinas, dana desa, bila memungkinkan ambil dana dari pentas-pentas kesenian, dan segala aktivitas lain yang tidak memungkinkan dilakukan. Kami yakin Pemerintah Provinsi DIY akan mendukung jika Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berkomitmen mengawal kebijakan ini sebaik-sebaiknya demi memastikan keselamatan warganya. (Sumber Foto: Kemendikbud)

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.