Tanpa Pasar Malam, Keraton Yogyakarta Menggelar “Hajad Dalem Sekaten”



 Yogyakarta, 2 September 2019 – Setiap tahun, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Sekaten pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa Sultan Agungan. Hajad Dalem Sekaten dibuka dengan prosesi Miyos Gangsa dan ditutup dengan prosesi Kondur Gangsa. Pagi hari berikutnya, yang merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW dalam Tahun Jawa, diperingati dengan Hajad Dalem Garebeg Mulud. Tahun ini, Miyos Gangsa. Kondur Gangsa dan Garebeg Mulud akan dilaksanakan pada tanggal 1, 9, dan 10 November 2019. Bersamaan dengan pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten kali ini, keraton akan menggelar pameran budaya yang bertujuan untuk semakin menguatkan akar tradisi

Pameran Sekaten akan berlangsung pada tanggal 1 – 9 November 2019 di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Sitihinggil Keraton Yogyakarta. Tema besar yang diangkat dalam pameran tersebut berkaitan dengan “Sri Sultan Hamengku Buwono I”. Oleh karena itu, koleksi yang akan dipamerkan dan muatan acara pameran akan memiliki sangkut paut dengan pendiri Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.

Secara khusus, pameran akan menampilkan berbagai catatan sejarah dan karya Sultan pertama dari Keraton Yogyakarta. Berdasarkan hal tersebut, dirumuskan topik pameran sebagai berikut:

  1. Biografi Sri Sultan Hamengku Buwono I
  2. Peran Sri Sultan Hamengku Buwono dalam Sejarah
  3. Karya Sri Sultan Hamengku Buwono I
  4. Obyek terkait Sri Sultan Hamengku Buwono I
  5. Anugerah pahlawan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I

Terdapat pula agenda pendukung yang diselenggarakan pada saat pameran, antara lain:

  1. Tur kuratorial, yang merupakan ulasan ahli terhadap koleksi yang dipamerkan dan dikemas dalam kegiatan diskusi terbuka.
  2. Pelatihan Seni, yang merupakan wahana interaktif bagi masyarakat saat berkunjung ke pameran
  3. Lomba Karawitan, diikuti oleh kelompok karawitan tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama se-DIY
  4. Pertunjukan dan Perlombaan Seni, yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang bagi komunitas, sanggar, ataupun institusi seni utuk dapat tampil mengisi acara setiap hari di Bangsal Pagelaran.
  5. Diskusi Film Budaya, yakni ruang diskusi terbuka bagi masyarakat umum terhadap film maupun dokumentasi budaya koleksi Keraton Yogyakarta maupun koleksi instansi lain.

Pameran akan dibuka untuk umum dengan jam kunjung pkl 09.00-21.00 WIB. Tiket masuk ke pameran dapat diperoleh di loket pembelian yang berada di sebelah barat Bangsal Pagelaran.

Sekilas Mengenai Sekaten

Sekaten dipercaya sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak pada awal abad XVI. Sekaten terus menerus dilestarikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah seperti Pajang dan Mataram, baik pada saat pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga Surakarta dan Yogyakarta.

Ada yang memaknai Sekaten berasal dari kata ‘syahadatain’ yang berarti dua kalimat syahadat. Selain itu, Sekaten juga terkait erat dengan gamelan yang diberi nama Kyai Sekati. Konon, pada masa Kerajaan Demak, para Wali menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada Bulan Mulud (Tahun Jawa) untuk berdakwah dengan pertama-tama membunyikan Gamelan Sekati. Masyarakat yang tertarik dengan suara gamelan pada sunyi senyap masa silam, akan berkumpul dan kemudian mendengarkan dakwah para Wali dalam menyebarkan agama Islam. Sekaten yang diselenggarakan pada Bulan Mulud kemudian juga sering disebut dengan peringatan Muludan.

Prosesi Sekaten diawali dengan prosesi Miyos Gangsa. Yaitu keluarnya Gamelan Sekati Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan Kanjeng Kiai (KK) Nagawilaga dari dalam Keraton Yogyakarta menuju area Pagongan Masjid Gedhe pada tanggal 6 Mulud Tahun Jawa. Pada dini hari tanggal 12 Mulud, Gamelan Sekati akan dikembalikan ke dalam keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Selama berada di Pagongan Masjid Gedhe antara 6-12 Mulud ini, gamelan terus menerus ditabuh mulai sejak pagi hingga tengah malam secara bergantian. Rentang waktu pada saat gamelan dibunyikan inilah yang disebut dengan berlangsungnya tradisi Sekaten.

Upacara Miyos Gangsa tahun ini akan dilaksanakan pada Minggu (3/11) pukul 23.00. Sedangkan Kondur Gangsa akan dilaksanakan pada Sabtu (9/11) pukul 23.00. Keesokan hari setelah pelaksanaan Kondur Gangsa, akan digelar Garebeg Mulud pada Minggu (10/11) mulai pukul 07:00. Seluruh rangkaian kegiatan ini dapat disaksikan oleh umum.

Tradisi lain selama Sekaten adalah pembacaan Riwayat Nabi di Serambi Masjid Gedhe yang akan dihadiri oleh Sri Sultan. Sesaat sebelum dimulainya prosesi Kondur Gangsa, Sultan akan miyos ke halaman Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik yang terdiri dari beras, biji-bijian dan uang logam di tiga tempat diawali dari Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan di dalam Masjid Gedhe. Peristiwa ini merupakan momen yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung. Selain itu, pada saat mendengarkan pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW, Sri Sultan akan mengenakan simping atau rangkaian bunga di telinga. Penggunaan simping bunga menyimbolkan makna bahwa raja akan mendengarkan keluhan serta aspirasi rakyat.

Luhurnya tradisi beserta makna yang terkandung dalam setiap rangkaian acara yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini akan lebih ditonjolkan melalui pengelolaan acara Sekaten tahun ini. Hal ini diharapkan dapat lebih meneguhkan keistimewaan Yogyakarta dalam menjadi benteng budaya di tanah Jawa.