Mangayubagya 30 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X Bertahta



Yogyakarta, 8 Maret 2019 – Pada 7 Maret 2019, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar peringatan 30 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta berdasarkan tahun Masehi. Berbagai rangkaian acara akan gelar, diantaranya:

1. Simposium Internasional

Dengan mengangkat tema besar “Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta”, simposium ini diharapkan mampu menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung di dalam naskah-naskah lama. Dalam catatan sejarah, Keraton Yogyakarta kehilangan banyak naskah yang berisi berbagai ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi tahun 1812. Berbagai naskah yang telah 207 tahun berada di Inggris, tahun ini akan diserahkan kepada keraton dalam bentuk digital. Momentum ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahun Jawa yang telah lama hilang bangkit kembali.

Kegiatan simposium internasional dilaksanakan pada tanggal 5 dan 6 Maret di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo. Kegiatan akan dibuka dengan Beksan Jebeng yang merupakan karya pendahulu Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dilanjutkan pidato pembukaan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selama 2 hari, diskusi akan dikemas dalam empat topik antara lain: sejarah, sastra, seni dan sosial-budaya. Berikut rincian agendanya:

Hari Pertama, Selasa 5 Maret 2019

  1. Sesi 1 : Sejarah : 10.45 – 12.45 WIB
  • Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional)

Masa Kolonial Inggris di Indonesia

  • Peter Carey (Peneliti)

The British attack on Yogyakarta and the Moral Collapse of the Javanese- The Viewpoint of Pangeran Aria Panular (circa 1770-1826)

  • Hazmirullah Aminuddin (UNPAD)

Raffles, Naskah Kitab Hukum dan Rekayasa Sosial terhadap Penduduk Jawa Tahun 1814

  • Djoko Marihandono (UI)

Presepsi orang Jawa tentang Napoleon Bonaparte berdasarkan Manuskrip Serat Napuliyun Karya Hamengku Buwono VI

  1. Sesi 2 : Filologi : 13.45 – 15.45 WIB
  • Annabel Teh Gallop (Lead Curator British Library)

Yogyakarta Manuscripts: Illumination and Binding

  • Arsanti Wulandari, S.S., M.Hum. (UGM)

Bahasa adalah Jendela Dunia: Kajian Tentang Babad Ngayogyakarta

  • Stefanus K. Setiawan (S2 Sastra UGM)

Iluminasi, Ilustrasi dan Kisah Santri Lelana dalam Serat Jayalengkara

  • Salfia Rahmawati (UGM)

The Collectie Moens Manuscripts: Yogyakarta Suburb Culture in Early 20 Century”

 

Hari Kedua, Rabu, 6 Maret 2019

  1. Tema I : Pertunjukan : 10.30 – 12.30 WIB
  • Roger Vetter (Grinnel College USA)

Gamelan Collection of the Royal Court of Yogyakarta

  • Kuswarsantyo, M.Hum. (KRT Condrowasesa) (UNY)

Beksan Lawung: Antara Inovasi dan Rekonstruksi

  • R.M. Pramutomo (ISI Surakarta)

Wayang Wong The Kraton of Yogyakarta: Its Text and Context”

  • Rudi Wiratama (S2 Seni Pertunjukan UGM)

Pertunjukan Wayang Gedong Gaya Yogyakarta dalam Rekaman Sejarah- Upaya Melacak Pakeliran di Kasultanan Ngayogyakarta Berdasarkan Naskah Lama”

  1. Tema II: Sosial Budaya : 13.30 – 16.00 WIB
  • Fransisca Tjandrasih Adji, M.Hum (USD)

Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi”

  • Revianto Budi Santosa (UII)

The Ideas of Totally and Levels in the Application of Reckoning System”

  • Ahmad Arief (Wartawan Kompas)

“Jejak Ratu Kdul di Selatan Jawa: Kajian Tentang Mitigasi Tsunami”

  • Ghis Nggar Dwiatmojo (UNY)

Gempa dan Gerhana dalam Naskah Primbon Palintangan, Palindon, Pakedutan

 2. Pameran Naskah Keraton Yogyakarta

Puncak dari kegiatan peringatan 30 tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono X Bertakhta adalah Pameran Naskah Keraton Yogyakarta yang akan berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran. Resepsi yang menandai pembukaan pameran oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2019. Resepsi akan dibuka dengan pertunjukan Beksan Lawung Ageng, dengan jumlah penari sebanyak 42 orang. Beksan ini merupakan karya seni tari yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Selanjutnya, pameran naskah akan terus berlangsung hingga tanggal 7 April 2019. Adapun tema besar dari Pameran Naskah ini adalah “Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Naskah-naskah fisik yang akan dipamerkan merupakan koleksi keraton warisan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Naskah yang dipamerkan antara lain babad, serat, dan cathetan warni-warni dari perpustakaan keraton, KHP Widyabudaya. Sementara teks-teks bedhaya, srimpi, dan pethilan beksan, serta cathetan gendhing berasal dari koleksi KHP Kridhamardawa. Berbagai koleksi dari Bebadan Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat juga turut dipamerkan untuk mendukung visualisasi naskah. Selain pameran naskah dalam bentuk fisik, beberapa naskah yang diserahkan British Library akan ditampilkan dalam bentuk digital. Pameran ini terbuka untuk umum mulai jam 09:00 – 21.00 WIB. Untuk dapat menyaksikan pameran, pengunjung hanya perlu membayar biaya administrasi masuk ke Bangsal Pagelaran.

Disamping pameran, akan dibuka kelas kuratorial dan tur ruang pamer yang akan dipandu oleh akademisi dan komunitas. Kegiatan tersebut dilakukan setiap akhir pekan dengan tujuan menyuburkan atmosfer akademis di Yogyakarta. Lebih-lebih ketertarikan masyarakat terhadap budaya dan sejarah yang semakin tinggi perlu diapresiasi. Melalui ruang diskusi yang disediakan, diharapkan agar masyarakat semakin sadar tentang upaya merawat identitas yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Semangat yang sama juga telah menginisiasi kegiatan digitalisasi koleksi budaya dan pusaka milik Keraton Yogyakarta. Proses ini akan dilakukan secara berkelanjutan hingga kemudian hari. Harapannya, seluruh koleksi Keraton Yogyakarta terjaga kelestariannya sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang.

Unduh risalah simposium dan pmaeran di sini: UNDUH

*keterangan:

Beksan Jebeng merupakan tarian yang dilakukan oleh 4 orang pria. Selain sebilah Keris, tarian ini menggunakan properti utama, yakni Jebeng. Jebeng adalah properti tari yang bentuknya menyerupai paduan antara Tameng dan anak panah besar, yang dihias dengan gambar tertentu. Biasanya, permukaan Jebeng, tergambar Dewi Srikandhi dan Dewi Larasati.

Tarian ini menggambarkan adegan peperangan antara beberapa raja di tanah Jawa dan beberapa raja di tanah seberang, yaitu dari kerajaan Purwakencana. Pertempuran begitu sengit, sehingga menimbulkan banyak korban dari kedua belah pihak. Atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa, kedua belah pihak disadarkan bahwa mereka ternyata masih bertalian saudara. Mereka selanjutnya mengadakan kesepakatan untuk tetap hidup rukun dan damai demi kemajuan bersama.