Pameran Festival Equator Biennale Jogja Equator#4 Indonesia-Brasil “Organizing Chaos”

Festival Equator adalah festival pendukung dan pendamping Biennale Jogja, sejak Biennale Jogja memulai proyek panjang seri EQUATOR. Sebagai pendukung,festival ini bertujuan memfasilitasi dialog tentang persoalan di lingkar equator serta wacananya yang disebarkan ke masyarakat luas di luar kesenian. Sejalan dengan tema utama Biennale Jogja tahun ini, STAGE OF HOPELESSNESS”, Festival Equator kali ini mengambil tema “ORGINIZING CHAOS”.

“ORGINIZING CHAOS” diambil sebagai tema dan sebuah upaya mengangkat wacana atas dinamika persoalan-persoalan yang terjadi secara historis di tengahmasyarakat hari ini. Dalam hal ini, kesadaran baru masyarakat coba dimunculkan melalui rangkaian peristiwa yang berlangsung di ruang publik secara tidak wajar. Bentuk-bentuk peristiwa disusun sedemikian rupa sebagai sebuah teks implisit, yang bertujuan mengingatkan kembali momen-momen traumatik di masa lalu dengan mengaitkannya pada konteks Yogyakarta hari ini. Kesadaran itu ada ketika momen traumatik itu muncul. Pada titik ini pula dirasa turut melahirkan momen estetik. 

Jika pada edisi-edisi sebelumnya Festival Equator berlangsung secara blusukan dan gamblang, Festival Equator kali ini terwujud dalam peristiwa-peristiwa yang dilakukan secara senyap dan menyelinap di antara hiruk-pikuk masyarakat selama 30 hari di bulan Oktober 2017. Atribut atau identitas seniman dan komunitas yang menunjukkan bahwa aktivitas mereka merupakan bagian dari Festival Equator pun disamarkan. Dengan begitu, definisi dari peristiwa ini diserahkan kepada publik.

Melalui pameran kali ini, bukan saja ingin dilihat sebagai sebuah dokumentasi (arsip) atau proses (perjalanan) tetapi juga sebagai upaya reflektif publik atas peristiwa yang telah dihadirkan. Pantaskah kemudian ia dihadirkan kembali sebagai kerangka konstruksi kesadaran dan sejauh mana pula ia dapat memberikan kesadaran baru di tengah masyarakat hari ini.

Para seniman yang berpartisipasi antara lain AORSI (Asosiasi Olah Raga Sketsa Indonesia), Canka Mahameru, Dhomas “Kampret” Yudhistira, Digie Sigit, Estehanget, Erson Padapiran, Fj Kunting, Ismu Ismoyo (OTeWe), Kukomikan, Rolli “LoveHateLove”, SD Tumbuh, Yayas (The Portable).